Kekekalan rahasia

Aku melewati jalanan yang terbuat dari bongkahan malammu

Gang-gang sempit seperti rongga leher seseorang

Mengular melintasi kedai-kedai sunyi.

 

Aku berhenti di kesunyian yang sesak, duduk di bangku paling ujung, lalu

Memesan secangkir kopi hitam, membaca sebuah dongeng yang kau tulis

Dengan jejak-jejak basah, punggung menggambarkan aroma kamboja.

Konon engkau adalah seorang putri yang mampuh

Membelah jantung sang kesatria, namun keburu lenyap sebelum ku asah

Pedangmu.

 

Selanjutnya bibirmu terurai menjadi burng baying-bayang

Sebelumbnya jantungmu menyimpan sabda dalam degub.

 

Dalam atau luar detak rahasia akan selalu kekal bersama tuhanya.

Penggali bayang

Aku menggali bayangan dikedalaman diriku

Sebuah bola mata telah terjatuh di sana di dasar

Yang paling gelap lalu waktu menimbunya dengan rintihan panjang

Dan runtuhan-runtuhan malam.               

 

“dari tahun ketahun, rerumputan berubah menjadi hujan dari

Kota ke kota, bunga bunga menguap menjadi ribuan matahari”

 

Aku tertidur dalam doa seorang kepalaku laut, melesatkan

Ikan-ikan cahaya.

Menangkap Capung

”. Sore ini aku melihat seorang gadis kecil

naik sepeda, bersama dua temanya.

Kemudian aku ingat dirimu, ingat masa kecilmu

Yang belum pernah aku singgahi. Membuat

Cita-cita lamaku hidup kembali, menjumpai dirimu

Di waktu kecil. Lalu mengajakmu bermain di pematang

Sawah sawah yang kering. Sambil ku janjikan, akan

Ku tangkapkan kau seekor capung.

 

Aku gandeng tanganmu yang mungil dengan tanganku

Yang juga kecil. Waktu itu aku begitu polos, dan tak tau

Apa-apa. Kita tak paham apa itu cinta, tak peduli dengan

Definisi benci. Tak tahu, dan tak mau tahu topeng dunia

Dan segala isinya. Yang kita tahu adalah hari ini kita bisa

Bermain, bersenang-senang dan mendapat uang jajan dari

Orang tua.

 

“ketika sudah dewasa, kau sering bilang, bahwa kau sangatingin kembali ke masa-masa indah itu lagi”

 

Kita lewati jalan setapak dengan telanjang kaki.

Waktu itu kau memakai singlet putih dan celana

Pendek bergambar (hello kitty). Rambut sebahu

Dan kulit kotor. Namun wajah manismu tetap tak

Bisa bersembunyi.

“ lihat itu ada capung” serumu, sambil menunjuk

Seekor capung yang hinggap di sebuah kayu

Kering yang tertancap di pinggir sawah.

 

“Sssstt.. jangan berisik”.

Aku meletakan telunjuk di depan bibirku, dan

Kau mengangguk.

aku di depan dank au ikut di belakangku. Kita mengendap-endap

Seperti seperti seorang tentara yang hendak menyerbu musuh.

 

Capung bertubuh merah itu menggoyangkan tubuhnya

Kepalanya bergerak-gerak, seolah dia tahu bahwa

Ada mahluk asing yang mau mendekatinya. Namun

Ia tetap beranjak dari batang kayu itu.

 

Tanganku perlahan mendekat ke ekornya. Sekarang tinggal lima sentil lagi

Jarakuku dengan ekornya, dan.. hap. Kena, capung itu

Berhasil ku tangkap. Tubuhnya bergerak-gerak hendak melepaskan diri,

Tapi tanganku lebih kuat mencengkramnya.

 

“hore, kita dapat. Masukan kedalam plastik”. Katamu

 

Kumasukan capung itu kedalam plastic yang

Kau bawa. Kau Nampak senang sekali. Kemudian kita berjalan lagi.

Berburu capung-capung lengah lagi.

 

Hari ini kita Cuma dapat dua capung. Kita pun

Tak tahu, untuk apa kita menangkapnya. Kau bilang, kau akan menyimpan

Capung itu dalam toples, lalu akan kau letakan di dalam

Kamarmu. Agar bisa menjadi teman yang melindungimu, saat kau tidur.

 

Matahari sudah hapir tenggelam.

 

Pagi-pagi sekali, kau dating ke rumahku membawa

Toples berisi dua capung hasil tangkapan

Kita kemarin.

“aku ingin melepaskanya”. Katamu

“kenapa?”.

“kasihan, sepertinya dia mulai lemas, aku rasa dia juga

Ingin bebas juga seperti kita”.

“baiklah. Ayo kita lepas mereka”.

 

Kita buka toples itu , lalu dua ekor capung

Itu bergerak-gerak. Bangkit, keluar, terbang perlahan-lahan,

Meninggi, menjauh, menuju langit.

 

Tiba-tiba tubuhku berubah dewasa. Menjadi

Seperti semula. Tak ada capung, tak ada toples,

Tak ada dirimu di masa kecil. Tak ada siapa-siapa.

Hanya diriku yang terduduk di kamar sendirian.

Aku terdiam, mengingat-ingat yang baru saja terjadi.

 

Sebuah pesan masuk di inbox handphone ku, namamu

Yang terpampang disitu. Ku raih handphone, lalu ku buka: “tiba-tiba

Aku kangen masa kecilku, aku kangen kamu.

 

Burung Hantu

Image   Angin  bernafas pelan sekali, seolah-olah jangan sampai

sunyi mendengarnya. Sedang waktu memanjat

dinding hitam, terengah-engah , namun hampir mencpai

puncaknya. Malam melelehkan tubuhnya yang dingin

pada lembab udara, atap-atap kayu, dan dahan-dahan

pohon mangga.

 

Kamar ini semacam percakapan gaduh dalam hening,

Tentang sosok yang tinggal menetap dalam kepala. Seperti

Seorang pemburu gelap yang keras kepala. Membuat rumah-rumah

Permanen dalam kepala. Meng-isyaratkan dirinya pemilik tunggal.

Menetap,tak mau, dan tak akan pergi.

 

Di sebutkan lagi nama itu dalam buku-buku, oleh televise,

Oleh secangkir kopi yang kotor, oleh bagian-bagian

Tubuhku sendiri.

 

Ku pejamkan mata dalam beberapa detik, menarik nafas

yang teramat panjang, membiarkan sosok dalam kepala

itu memberikan senyum yang paling cemerlang. Lalu

kusabdakan sebuah kalimat selamat malam.

 

Selamat malam yang pelan-pelan keluar dari dalam bisik ku,

Sebagai sebuah kabut bergerak, memanjang, hingga benar-benar habis

Tak tersisa dari dalam mulutku.

Selamat malam itu kemudian, mengumpul, menggumpal seperti

Bola-bola, satu lengan jaraknya di depan mata. Pelan-pelan

Kabut itu menyusut. Dari sebuah bola, menjadi sesuatu

yang agak ramping, bersayap, bergerak, kemudian

mengepak. Sesuatu yang tak mungkin kau duga sebelumnya.

Selamat malam itu, kini menjadi seekor burung hantu.

Burung hantu yang kokoh. Paruhnya runcing, mata yang redup

tapi  tajam, serta bulu abu-abu, dengan totol-totol hitam.

 

Kurasakan sesaat suasana mendadak hikmat menyaksikan segala.

Jam dingding berhenti bersua, angin berhenti mengejar, seakan

Mukjizat baru saja terjadi.

 

Burung hantu itu menatap ku untuk beberapa menit, seperti

Sedang membaca isyarat yang terbaca dari mata ku. Memahaminya,

Sebelum akhirnya ia menuju jendela. Jendela yang seperti

Telah tersihir. Jendela yang secara otomatis terbuka saat ia

Mengepakan sayap di depanya.

 

Burung hantu itu merobek kutukan-kutukan yang sempat menutup malam,

Seperti serangkaian jarring laba-laba. Melewati ribuan kerlip lampu kota

Yang mengantuk. Bangunan-bangunan rapuh di sepanjang kota,

Dan langit-langit yang penuh tatap.

 

Ia tembus pula sekumpulan kabut sombong. Nyanyian malaikat

Yang menggoda nammun tak di hiraukanya, juga hutan-hutan purba

Tempat dimana hantu-hantu konon mendirikan kerajaanya.

 

Ketika sayap-sayapnya terasa letih mengepak, ia putuskan untuk berhenti

Sejenak di sebuah pohon beringin di pinggir sungai. Sungai yang

Tenang seperti matamu. Disitu angin seperti seorang sahabat lama. Di sisinya

Bulalan mengambang, tepatnya berenang. Dia piker dialah anak kecil

Yang baru saja mendapatkan ijin bermain sepuasnyadari ibunya.

 

Burung hantu itu tuerun dari atas pohon, lalu

Memijakan kakinya pada sebuah batu yang tak terlalu besar di pingggir

Sungai. Meminum airnya, merasakan cipratan surge dalam

Kerongkonganya, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Perjalanan

Cepat, menuju ke kotamu. Terbang, kembali ia terbang, beriring-iringan

Bersama cahaya. Cahaya yang berasal dari doa-doa yang berlesatan dari langit.

 

Setelah ribuan kilo, sampai juga burung hantu itu pada sebuah rumah bercat

Biru langit. Rumahmu, rumah seluruh keluargamu yang menghitung waktu.

 

Dia mencari dingding jendela kamarmu, jendela yang bersebelahan dengan ruang

Dapur itu. Jendela kamar yang memiliki satu daun pintu. Bukalah, bukalah

Karena aku tahu kau belum benar-benar terlelap.

 

Kau segera beranjak dari tempat tidurmu, merasakan sesuatu dari luar yang

Begitu kuat menarikmu. Berjalan sempoyongan seperti seorang bidadari

Yang kehilangan sayapnya. Menuju jendela.

 

Ketika kau buka jendela, kau lihat seekor burung hantu berwarna abu-abu

Itu sudah tertengger di depanmu. Memperhatikan wajahmu lekat-lekat. Ia mencoba tersenyum

Tapi kau tak bisa membedakan mana senyuman, mana gerutuan. Kau mundur satu langkah

Seperti hendak melarikan diri, tapi ketenangan burung hantu itu

Malah membuatmu bertahan. Bahkan kau maju lagi satu langkah

Ke depan. Aku sepertinya tak perlu member tahumu bertahan.

Karena aku curiga kau sudah tahu, bahwa burung hantu itu sebenarnya

Adalah jelmaan selamat malamku padamu, jelmaan rinduku padamu.

Manusia Plastik

Dia terduduk di bawah sebuah kota yang terbuat

Dari kerapuhan, memandang ke luar jendela yang tak benar-benar

Ada (seperti jendela yang di curi dari mimpi seseorang). Padang rumput hijau,

Hutan-hutan seluas fantasi.

 

Dia melihat sekumpulan seorang anak kecil yang sedang

Menanam pohon-pohon plastic, membangun rumah-rumah plastic, membuat

Manusia-manusia plastic, tubuh mereka sendiri.

 

Seorang gadis kecil yang berwajah langit menuju ke arahnya,

Melangkah malu-malu sambil memberinya

Sebuah bunga, bunga plastik.

 

 “untuk kehidupan kita yang lebih baik” kata gadis kecil itu.

 

Dia tersenyum lalu membuang bunga itu jauh-jauh,

Jauh kedalam jantungnya sendiri.

 

Di ruang ini tiba-tiba segalanya jadi begitu mudah

Memuai, sunyi memuai, kecemasan memuai, udara

Memuai, kota-kota memuai. Lalu segalanya menghilang.

Kecuali tubuhnya, tubuh pelastiknya.

Puisi Untukmu

Image   “Jemariku, mereka menghamba pada banyak keindahan hidup. Termasuk kamu.”
Aku kagum pada tubuhmu, di tiap titik bagi cahaya dapat menjatuhkan terangnya.

“Aku bisa terpelanting, kau tahu?”

“Tak apa. Tetaplah mendarat di pangkuanku!” 

Jika lelap dan pejamku telah jadi milikmu, ambillah segala sadarku! Karena semua arah pandang, hanya menyudut padamu.  

“Akulah kata yang kau katakan, selama kau sanggup mengatakannya.” 

Arti Sahabat

Apa arti Sahabat?

By; Widi

TEST MATA SEDERHANA


Sahabat
. Apa sih arti dari sebuah persahabatan?? Ada yang bilang sahabat itu adalah teman yang benar-benar dekat sampai tahu hal-hal kecil tentang kita. Ada juga yang bilang sahabat itu kalau kemana-mana selalu bareng. Tetapi salah satu sahabat saya bilang, sahabat itu adalah teman dalam suka dan duka, tapi tahu batas dimana suatu saat ketika teman dapat masalah, kita harus membiarkan dia mengatasi masalahnya sendiri agar teman tersebut tumbuh lebih matang dan mandiri.

Terkadang saya dengan enteng menyebut, dia itu sahabat saya. Tapi ketika ditanya ini itu tentang sahabat saya yang berhubungan dengan keluarga, pendidikan dan lain-lain, saya bingung jawabnya. Dari situ saya mikir, apa saya ini sahabat yang baik? Apa saya pantas disebut sahabat? Karena saya menganggap sahabat adalah orang yang bisa melihat kita dari hati ke hati, bukan karena tampang, materi, latar belakang, pendidikan dan lain-lain. Karena itu saya memang jarang menanyakan hal-hal yang berbau privacy ke sahabat-sahabat saya. Saya lebih sebagai pemberi masukan dan penerima keluh kesah sahabat-sahabat saya. Bukannya saya orang yang nggak peduli dan nggak mau tau, tapi menurut saya persahabatan bukan dinilai dari sedalam apa kita tau tetek bengek orang tersebut, melainkan sedalam apa kita memahami orang tersebut. Saya sudah ngerasain pahitnya persahabatan ketika saya bilang dia sahabat saya, ternyata dia hanya memanfaatkan apa yang saya punya dan lain-lain. Ketika saya sedang jatuh, dia malah meninggalkan karena merasa ga ada yang bisa diberikan oleh saya.
Cuma segitu arti persahabatan ??
Suatu hari saya menyatakan A adalah sahabat saya. Ketika A ditanyakan, siapa sahabat kamu, A menjawab B, C, D, namun tidak menyebutkan nama saya. Dari sini saya mencoba memikir ulang. Apakah saya bukan termasuk sahabatnya? Apa saya bukan sahabat yang baik? Hal ini sering terbesit dalam pikiran saya Teman saya banyak. Saya pergi dengan teman-teman yang berbeda. Namun apakah mereka adalah sahabat saya? Karena terkadang teman untuk hang out berbeda dengan sahabat.
Ada seorang sahabat saya mengirim sms pernyataan, “Saya nggak berharap untuk jadi orang yang terpenting dalam hidup kamu, itu permintaan yang terlalu besar. Saya cuma berharap suatu hari nanti kalo dengar nama saya, kamu bakal tersenyum dan bilang, dia sahabat saya.” Damn! Itu benar-benar merasuk ke hati saya. Itulah kata-kata yang saya cari. Saya tidak butuh pernyataan apa-apa. Tapi ketika ada orang menyebutkan nama saya, ia akan bilang “Chika adalah sahabat saya”. Saya nggak perlu menyebutkan siapa-siapa aja sahabat saya, because you know who you are. Buat saya, sahabat adalah orang yang menganggap saya sebagai sahabat. Kita tidak perlu nyebutin sahabat saya adalah A, B, C, D, E. Karena 1 nama saja terlupakan, orang itu pasti akan sedih. Begitupun sebaliknya. Kalo sahabat kamu menyebutkan nama-nama sahabatnya namun lupa untuk menyebutkan nama kamu, kamu pasti sedih. Karena itu saya cuma bisa dibilang orang-orang yang merupakan sahabat saya adalah orang-orang yang menganggap saya sebagai sahabat.
Berikut adalah kutipan pernyataan dari seorang sahabat:
Seorang teman tetap memberi ruang gerak pribadi, privacy sebagai seorang manusia. Dan kita akan berasa deket dengan dia walaupun ga ketemu dan ga kontak dalam waktu yang lama. Karena pertemanan itu pada dasarnya dari ikatan hati. Ga bakal ilang walaupun dimensi jarak memisahakan kita. Kita harus mengkui bagaimanapun juga kita ga bisa menghilangkan dia dari hati kita. Dan tanpa teman, kita ga akan seperti sekarang ini.
widi says:
“Manusia selalu hidup berkelompok. Tiada manusia yang dapat hidup dalam kesendirian. Apabila ada, maka manusia tersebut benar-benar mahluk yang malang dan hidupnya tentu tidak berwarna.”