Kekekalan rahasia

Aku melewati jalanan yang terbuat dari bongkahan malammu

Gang-gang sempit seperti rongga leher seseorang

Mengular melintasi kedai-kedai sunyi.

 

Aku berhenti di kesunyian yang sesak, duduk di bangku paling ujung, lalu

Memesan secangkir kopi hitam, membaca sebuah dongeng yang kau tulis

Dengan jejak-jejak basah, punggung menggambarkan aroma kamboja.

Konon engkau adalah seorang putri yang mampuh

Membelah jantung sang kesatria, namun keburu lenyap sebelum ku asah

Pedangmu.

 

Selanjutnya bibirmu terurai menjadi burng baying-bayang

Sebelumbnya jantungmu menyimpan sabda dalam degub.

 

Dalam atau luar detak rahasia akan selalu kekal bersama tuhanya.

Iklan