Menangkap Capung

”. Sore ini aku melihat seorang gadis kecil

naik sepeda, bersama dua temanya.

Kemudian aku ingat dirimu, ingat masa kecilmu

Yang belum pernah aku singgahi. Membuat

Cita-cita lamaku hidup kembali, menjumpai dirimu

Di waktu kecil. Lalu mengajakmu bermain di pematang

Sawah sawah yang kering. Sambil ku janjikan, akan

Ku tangkapkan kau seekor capung.

 

Aku gandeng tanganmu yang mungil dengan tanganku

Yang juga kecil. Waktu itu aku begitu polos, dan tak tau

Apa-apa. Kita tak paham apa itu cinta, tak peduli dengan

Definisi benci. Tak tahu, dan tak mau tahu topeng dunia

Dan segala isinya. Yang kita tahu adalah hari ini kita bisa

Bermain, bersenang-senang dan mendapat uang jajan dari

Orang tua.

 

“ketika sudah dewasa, kau sering bilang, bahwa kau sangatingin kembali ke masa-masa indah itu lagi”

 

Kita lewati jalan setapak dengan telanjang kaki.

Waktu itu kau memakai singlet putih dan celana

Pendek bergambar (hello kitty). Rambut sebahu

Dan kulit kotor. Namun wajah manismu tetap tak

Bisa bersembunyi.

“ lihat itu ada capung” serumu, sambil menunjuk

Seekor capung yang hinggap di sebuah kayu

Kering yang tertancap di pinggir sawah.

 

“Sssstt.. jangan berisik”.

Aku meletakan telunjuk di depan bibirku, dan

Kau mengangguk.

aku di depan dank au ikut di belakangku. Kita mengendap-endap

Seperti seperti seorang tentara yang hendak menyerbu musuh.

 

Capung bertubuh merah itu menggoyangkan tubuhnya

Kepalanya bergerak-gerak, seolah dia tahu bahwa

Ada mahluk asing yang mau mendekatinya. Namun

Ia tetap beranjak dari batang kayu itu.

 

Tanganku perlahan mendekat ke ekornya. Sekarang tinggal lima sentil lagi

Jarakuku dengan ekornya, dan.. hap. Kena, capung itu

Berhasil ku tangkap. Tubuhnya bergerak-gerak hendak melepaskan diri,

Tapi tanganku lebih kuat mencengkramnya.

 

“hore, kita dapat. Masukan kedalam plastik”. Katamu

 

Kumasukan capung itu kedalam plastic yang

Kau bawa. Kau Nampak senang sekali. Kemudian kita berjalan lagi.

Berburu capung-capung lengah lagi.

 

Hari ini kita Cuma dapat dua capung. Kita pun

Tak tahu, untuk apa kita menangkapnya. Kau bilang, kau akan menyimpan

Capung itu dalam toples, lalu akan kau letakan di dalam

Kamarmu. Agar bisa menjadi teman yang melindungimu, saat kau tidur.

 

Matahari sudah hapir tenggelam.

 

Pagi-pagi sekali, kau dating ke rumahku membawa

Toples berisi dua capung hasil tangkapan

Kita kemarin.

“aku ingin melepaskanya”. Katamu

“kenapa?”.

“kasihan, sepertinya dia mulai lemas, aku rasa dia juga

Ingin bebas juga seperti kita”.

“baiklah. Ayo kita lepas mereka”.

 

Kita buka toples itu , lalu dua ekor capung

Itu bergerak-gerak. Bangkit, keluar, terbang perlahan-lahan,

Meninggi, menjauh, menuju langit.

 

Tiba-tiba tubuhku berubah dewasa. Menjadi

Seperti semula. Tak ada capung, tak ada toples,

Tak ada dirimu di masa kecil. Tak ada siapa-siapa.

Hanya diriku yang terduduk di kamar sendirian.

Aku terdiam, mengingat-ingat yang baru saja terjadi.

 

Sebuah pesan masuk di inbox handphone ku, namamu

Yang terpampang disitu. Ku raih handphone, lalu ku buka: “tiba-tiba

Aku kangen masa kecilku, aku kangen kamu.

 

Iklan